6 Rumah Adat Indonesia dan Ciri Desainnya

deretan rumah adat Tongkonan dengan atap melengkung seperti perahu di Toraja
Deretan Tongkonan di Toraja/Foto: RianHS/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Jakartabuilding.id – Kenapa atap Rumah Gadang runcing, sementara Honai di Papua justru bundar dan rendah? Jawabannya ada pada iklim, bahan, dan cara hidup tiap suku, Sobat JB.

Enam rumah adat Indonesia di bawah ini dipilih karena desainnya paling sering dijadikan rujukan arsitek hari ini. Datanya diambil dari portal resmi pariwisata Indonesia.travel, Indonesia Baik, dan kajian Institut Kesenian Jakarta.

Bacaan Lainnya
Rumah adat Daerah Masalah yang dijawab Ciri utama
Joglo Jawa Tengah & DIY Panas, ruang tamu besar Atap gunungan, 4 soko guru
Rumah Gadang Sumatra Barat Hujan & gempa Atap gonjong, tiang tanpa paku
Tongkonan Toraja, Sulawesi Selatan Lembap & banjir Atap perahu, rumah panggung
Honai Pegunungan Papua Dingin malam Atap jerami bundar, tanpa jendela
Rumah Betang Kalimantan Banjir & hidup komunal Panjang >150 m, kayu ulin
Rumah Betawi Jakarta Rawa & panas Teras luas, langkan, panggung

Iklim Sama, Jawaban Berbeda

Rumah Gadang beratap gonjong dengan lumbung rangkiang di halaman
Rumah Gadang dan rangkiang, Sumatra Barat/Foto: Hermadiyansyah Putra S/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Hampir seluruh Indonesia beriklim tropis, tapi tantangannya tidak sama. Pesisir menghadapi rawa dan banjir, pegunungan Papua menghadapi malam yang dingin, dan Sumatra Barat berada di wilayah rawan gempa.

Karena itu bentuk rumahnya pun berbeda. Rumah Gadang dan lumbung padinya, rangkiang, adalah contoh bagaimana satu kompleks dirancang untuk keluarga besar sekaligus cadangan pangan.

6 Rumah Adat dan Ciri Desainnya

Setiap rumah di bawah ini disertai foto dan fungsi utama tiap bagiannya.

1. Joglo, Jawa Tengah dan DIY

rumah adat Joglo kayu beratap genteng tinggi berbentuk piramida
Rumah Joglo, Jawa Tengah/Foto: Herusutimbul/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Ciri paling mudah dikenali dari Joglo adalah atap tinggi berbentuk piramida yang menyerupai gunungan. Atap ini ditopang empat tiang utama yang disebut soko guru.

Ruangnya berurutan dari depan ke belakang: pendopo untuk tamu, pringgitan sebagai penghubung, omah dalem untuk keluarga, dan sentong di bagian paling dalam. Kayu jati atau nangka jadi bahan utamanya.

Baca Juga:  5 Arsitektur Tropis Modern, Prinsip dan Contohnya

Menurut saya, pendopo tanpa dinding inilah ide paling relevan untuk rumah tropis sekarang: teras besar yang teduh dan dilewati angin dari segala arah.

2. Rumah Gadang, Sumatra Barat

Rumah Gadang panggung beratap gonjong ijuk di Sumpu, Sumatra Barat
Rumah Gadang di Sumpu, Sumatra Barat, 2017/Foto: Raunaround/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Atap Rumah Gadang yang runcing disebut bagonjong, menyerupai tanduk kerbau. Bentuk curamnya juga membuat air hujan cepat turun.

Rumah ini berdiri di atas tiang kayu dengan sambungan tanpa paku, sehingga lebih lentur saat gempa. Atap aslinya dari ijuk, serat pohon aren.

Di dalamnya ada deretan bilik untuk keluarga besar dari garis ibu, sesuai sistem matrilineal Minangkabau. Anjung di ujung rumah dan rangkiang di halaman melengkapi kompleksnya.

3. Tongkonan, Toraja

rumah Tongkonan panggung dengan atap melengkung dan dinding berukir
Tongkonan, rumah adat Toraja/Foto: RianHS/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Atap Tongkonan melengkung seperti perahu terbalik atau tanduk kerbau. Rumahnya berdiri di atas tiang kayu, salah satunya kayu uru, untuk menghindari banjir dan lembap.

Dindingnya dipenuhi ukiran bermotif flora, fauna, dan geometris dalam warna merah, putih, dan hitam. Ruang di bawah rumah dipakai untuk ternak.

Interiornya terbagi tiga: lantang untuk tamu di depan, sali di tengah, dan ba’batuan di belakang untuk dapur dan penyimpanan.

4. Honai, Pegunungan Papua

deretan rumah Honai berdinding kayu dengan atap jerami bundar
Honai, rumah adat pegunungan Papua/Foto: Irfantraveller/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Honai hanya setinggi sekitar 2,5 meter dan bisa menampung lima sampai sepuluh orang. Atapnya berbentuk kerucut dari jerami atau ilalang.

Tidak ada jendela, hanya satu pintu. Desain ini menahan panas di dalam, karena suhu malam di Lembah Baliem bisa turun ke 10–15°C.

Atapnya menjulur rendah untuk melindungi dinding dari hujan. Honai untuk laki-laki, sedangkan rumah perempuan disebut ebe’ai.

5. Rumah Betang, Kalimantan

Rumah Betang panggung panjang dari kayu dengan tangga kayu di depan
Rumah Betang Manggatang Utus, Kalimantan/Foto: Martini Rahman/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Rumah Betang milik masyarakat Dayak bisa lebih dari 150 meter panjangnya. Puluhan keluarga tinggal di bawah satu atap, masing-masing dengan bilik sendiri yang berderet sepanjang bangunan.

Baca Juga:  6 Desain Rumah Lahan Sempit Contoh Nyata di Jakarta

Tiangnya setinggi 2–3 meter untuk menghindari banjir dan melancarkan aliran udara. Bahan utamanya kayu ulin yang tahan air dan rayap.

Tangga yang curam dulu berfungsi sebagai pertahanan. Posisi bangunannya juga mempertimbangkan arah angin, sungai, dan pepohonan di sekitarnya.

6. Rumah Betawi, Jakarta

rumah Betawi beratap genteng dengan teras berlangkan kayu di Setu Babakan
Rumah Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan/Foto: RasyaAbhirama13/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Menurut kajian Institut Kesenian Jakarta, ada empat jenis rumah Betawi: joglo, gudang, kebaya atau bapang, dan panggung. Rumah panggung muncul karena sebagian wilayah Jakarta dulunya rawa.

Cirinya teras depan yang luas untuk menerima tamu, pagar kayu pendek bernama langkan, dan tangga balaksuji. Warna hijau dan kuning paling sering dipakai.

Contoh yang mudah dikunjungi ada di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan.

Yang Bisa Dipakai di Rumah Modern

skema urutan ruang rumah Joglo dari pendopo, pringgitan, omah dalem, sampai sentong
Skema urutan ruang Joglo/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Tiga pelajaran paling mudah diterapkan: angkat lantai dari tanah, perlebar atap, dan susun ruang dari yang paling terbuka ke yang paling privat seperti urutan ruang Joglo.

Untuk lahan Jakarta yang sempit, urutan pendopo-pringgitan-dalem bisa diterjemahkan jadi teras, ruang keluarga, lalu kamar tidur di bagian paling belakang.

Rumah adat bukan romantisme masa lalu; ia adalah catatan ratusan tahun tentang cara tinggal nyaman di iklim kita.

 

Rina Maula
Ditulis oleh

Rina Maula

Perempuan sli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, nonton, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *