Pemilihan Bahan Dak Rumah: Beton, Bondek, atau Pracetak

pekerja di dak atap bangunan
Pekerjaan di dak atap bangunan/Foto: tz9728/Pixabay

Jakartabuilding.id – Dulu, hampir semua dak rumah dicor di tempat dengan bekisting kayu dan tiang bambu atau dolken. Sekarang pilihan bahan dak rumah bertambah: pelat baja gelombang yang dikenal sebagai bondek, pelat beton pracetak, sampai rangka baja ringan untuk lantai mezanin.

Sobat JB, pilihan ini menentukan biaya, lama pengerjaan, dan beban yang ditanggung kolom serta pondasi. Di bawah ini lima pilihan bahan dak, kapan masing-masing cocok, dan perbedaan dak lantai dengan dak atap.

Bacaan Lainnya

5 Pilihan Bahan Dak Rumah

bangunan beton bertingkat sebagai contoh bahan dak rumah
Bangunan beton dengan pelat lantai bertingkat/Foto: ds_30/Pixabay

Kelima pilihan di bawah dibandingkan untuk rumah tinggal satu sampai tiga lantai. Ukuran pelat, besi, dan bentang tetap harus dihitung perencana struktur.

1. Beton Bertulang Cor di Tempat

papan bekisting untuk pelat lantai
Papan kayu untuk bekisting pelat lantai/Foto: Johnnybam via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Ini pilihan paling umum. Pelat beton tebal 12 cm dengan besi sekitar 18 kg per m² berbiaya sekitar Rp874 ribu sampai Rp985 ribu per m², sudah termasuk beton, besi, bekisting, upah, dan biaya umum 10%.

Bagian yang paling sering membuat kaget adalah bekisting. Porsinya 44–50% dari biaya dak, lebih besar daripada beton maupun besi. Rinciannya ada di artikel biaya cor dak per m2.

2. Bondek atau Pelat Baja Gelombang

pelat dek baja gelombang di bawah balok baja
Pelat dek baja gelombang yang menjadi cetakan beton/Foto: [email protected] via Wikimedia Commons (Public domain)

Bondek adalah lembaran baja bergelombang yang dipasang di atas balok, lalu dicor beton. Lembaran ini menjadi cetakan permanen di bagian bawah sekaligus membantu menahan tarik, sehingga bekisting kayu di bawah pelat bisa banyak dikurangi.

Harga bondek tidak tercantum di survei harga bahan Pemprov DKI yang kami pakai, jadi bandingkan langsung lewat penawaran toko besi. Perancah sementara tetap dibutuhkan untuk bentang yang lebar sampai beton mengeras.

Baca Juga:  Cara Cek Besi Beton SNI dengan Timbangan

3. Pelat Beton Pracetak

pelat beton pracetak diturunkan dengan alat angkat
Pemasangan pelat beton pracetak dengan alat angkat/Foto: Federal Highway Administration via Wikimedia Commons (Public domain)

Pelat pracetak dibuat di pabrik, lalu dipasang di lokasi dan disambung dengan beton tipis di atasnya. Pengerjaannya cepat dan mutunya lebih seragam.

Kekurangannya, pelat yang besar butuh alat angkat, dan akses jalan ke lokasi harus cukup lebar. Pilihan ini lebih umum di perumahan yang dibangun banyak unit sekaligus.

4. Rangka Baja Ringan dan Papan Semen

sambungan balok lantai baja
Sambungan balok baja untuk lantai ringan/Foto: K&K Data Service Inc. via Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Untuk lantai mezanin atau lantai kerja ringan, rangka baja ringan dengan papan semen tebal jauh lebih ringan daripada pelat beton. Bebannya ke kolom dan pondasi lama juga lebih kecil.

Tapi bukankah lantai seperti ini terasa bergetar saat diinjak? Bisa, bila jarak rangkanya terlalu lebar. Selain itu, lantai kering tidak cocok untuk kamar mandi, jadi pilihan ini sebaiknya untuk ruang kerja, gudang, atau ruang santai.

5. Lantai Papan Kayu

papan kayu pinus
Papan kayu untuk lantai/Foto: Pazzo4562 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Lantai papan di atas balok kayu masih dipakai di rumah bergaya tradisional dan rumah panggung. Tampilannya hangat, tetapi kayu perlu dilindungi dari rayap dan kelembapan.

Menurut saya, lantai papan lebih cocok sebagai lapisan akhir di atas struktur beton atau baja daripada sebagai struktur lantai utama rumah di perkotaan.

Dak Lantai dan Dak Atap

pekerja melapisi waterproofing di dak atap
Pelapisan waterproofing di dak atap/Foto: tz9728/Pixabay

Dak lantai ditutup keramik atau lantai lain, sedangkan dak atap langsung terkena hujan dan panas. Dak atap perlu kemiringan ke saluran air dan lapisan kedap air.

Lapisan waterproofing berbasis semen sekitar Rp82 ribu per m² menurut hitungan koefisien AHSP dengan upah dan harga bahan DKI 2026, sebelum biaya umum. Untuk dak atap 60 m², biayanya sekitar Rp4,9 juta.

Kesalahan yang sering terlihat: dak atap dibuat datar tanpa kemiringan, lalu air menggenang di sudut dan merembes ke plafon kamar di bawahnya. Penyebab dan cara memperbaiki atap bocor ada di artikel atap bocor.

Baca Juga:  Harga Bangun Rumah per Meter Persegi 2 Lantai

Cek ulang harga di artikel ini setiap kali survei harga bahan Pemprov DKI diperbarui, terutama harga besi dan beton.

 

Rina Maula
Ditulis oleh

Rina Maula

Perempuan sli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, nonton, dan menggambar.

Pos terkait