Jakartabuilding.id – Gedung Museum Fatahillah di Kota Tua diresmikan pada 10 Juli 1710, artinya sudah berdiri 316 tahun. Di sekitarnya masih berdiri bangunan cagar budaya Kota Tua lain dari abad ke-18 sampai 1930-an.
Sobat JB, keenam bangunan di bawah ini bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dari Stasiun Jakarta Kota. Masing-masing mewakili zaman dan gaya arsitektur yang berbeda.
Kota Tua Sebagai Kawasan Cagar Budaya

Perlindungan gedung di Kota Tua sudah berlangsung puluhan tahun. Gedung Museum Fatahillah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 1970, sedangkan gedung Museum Seni Rupa dan Keramik dilindungi sejak 10 Januari 1972.
Toko Merah dilindungi berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 tanggal 29 Maret 1993 tentang penetapan bangunan cagar budaya.
Menurut saya, status ini justru yang membuat Kota Tua tetap bisa dibaca sebagai satu kawasan, bukan sekadar deretan gedung tua yang berdiri sendiri-sendiri.
6 Bangunan yang Wajib Dilihat
Urutannya mengikuti tahun pembangunan, dari yang paling tua.
1. Museum Wayang

Lokasinya dulu adalah gereja De Oude Hollandsche Kerk yang dibangun pada 1640, lalu menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk setelah renovasi 1732 dan rusak akibat gempa pada 1808.
Bangunan yang terlihat sekarang adalah hasil perombakan total pada 1912 bergaya Neo-Renaisans Belanda. Museum Wayang dibuka pada 13 Agustus 1975.
2. Museum Fatahillah

Gedung ini dibangun pada 1707–1710 sebagai Stadhuis atau balai kota Batavia dan diresmikan 10 Juli 1710. Gubernur Ali Sadikin meresmikannya sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.
Bangunan tiga lantai ini menghadap Taman Fatahillah, alun-alun yang menjadi titik kumpul pengunjung Kota Tua.
3. Toko Merah

Toko Merah dibangun pada 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff di atas tanah seluas 2.471 m², sebelum ia menjadi gubernur jenderal. Pada 1743–1755, gedung ini dipakai sebagai akademi angkatan laut.
Setelah direstorasi pada 2012, Toko Merah difungsikan sebagai ruang acara untuk konferensi dan pameran.
4. Museum Seni Rupa dan Keramik

Gedung ini diresmikan pada 12 Januari 1870 sebagai kantor dewan kehakiman Raad van Justitie, dengan delapan tiang besar di bagian depan.
Sebelum menjadi museum pada 1990, gedung ini pernah menjadi barak militer, kantor Wali Kota Jakarta Barat pada 1967–1973, dan Balai Seni Rupa pada 1976.
5. Museum Bank Indonesia

Museum ini menempati gedung bekas De Javasche Bank di Jalan Pintu Besar Utara, tepat di depan Stasiun Jakarta Kota. Museum dibuka 15 Desember 2006 dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009.
6. Museum Bank Mandiri

Gedung ini dibangun mulai 1929 untuk Nederlandsche Handel-Maatschappij dan dibuka resmi pada 14 Januari 1933. Perancangnya arsitek de Bruyn, dengan Smits dan van de Linde sebagai arsitek pelaksana.
Gayanya disebut Nieuw Zakelijk atau Art Deco klasik, dan museumnya berdiri pada 2004. Tapi bukankah Art Deco biasanya penuh ornamen? Gaya Nieuw Zakelijk justru menonjolkan bentuk yang lebih lugas dan fungsional.
Dari Gereja 1640 Sampai Art Deco 1933

Keenam bangunan ini merentang hampir 300 tahun sejarah konstruksi. Garis waktu di bawah memperlihatkan kapan masing-masing dibangun atau dibentuk ulang.
Datanglah pagi hari, saat cahaya masih rendah dan fasad-fasad tua ini terlihat paling hangat.


