Friedrich Silaban: 6 Karya Arsitek Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal karya Friedrich Silaban dengan kubah menyala dan Gereja Katedral di senja hari
Masjid Istiqlal dan Katedral dari udara/Foto: Arifmuttaqin/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Jakartabuilding.id – Friedrich Silaban adalah arsitek yang merancang Masjid Istiqlal, masjid negara yang pembangunannya makan waktu 17 tahun. Lahir di Tapanuli pada 16 Desember 1912, ia juga meninggalkan jejak di Gedung Bank Indonesia, Kalibata, dan Lapangan Banteng.

Sobat JB, banyak orang hanya mengenal satu karyanya. Padahal dalam kurun 1949 sampai 1963 saja, Silaban merancang setidaknya enam bangunan penting. Berikut daftarnya, berurutan dari yang paling terkenal.

Bacaan Lainnya

Anak Tapanuli dari Sekolah Teknik

foto lama pemandangan dari Monas ke Masjid Istiqlal yang sedang dibangun, Katedral, dan Lapangan Banteng
Istiqlal saat dibangun dan Lapangan Banteng, 1963–1980/Foto: Tropenmuseum via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Silaban lahir di Desa Bonandolok, Tapanuli, Sumatra Utara. Ia lulus dari Koningin Wilhelmina School (KWS), sekolah teknik menengah di Batavia, pada 1931.

Kariernya banyak dijalani di Bogor, termasuk sebagai juru gambar di Kotapraja Bogor pada 1939–1942 dan kemudian di Dinas Pekerjaan Umum kota itu. Ia wafat pada 14 Mei 1984.

1. Masjid Istiqlal, Jakarta

ruang salat utama Masjid Istiqlal dengan tiang-tiang besar berlapis logam dan karpet merah
Ruang salat utama Masjid Istiqlal/Foto: P. Hughes/Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Silaban memenangi sayembara desain Masjid Istiqlal pada 1955 dengan nama samaran “Ketuhanan”. Tiang pertamanya dipancangkan Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961.

Lahannya bekas Benteng Frederik Hendrik peninggalan Belanda, yang dibongkar dengan bantuan tentara. Menurut catatan pengelola masjid, sekitar 50.000 orang hadir saat tiang pertama dipancangkan.

Masjid ini baru diresmikan Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978, setelah 17 tahun pembangunan. Kubahnya berdiameter 45 meter, angka yang melambangkan tahun Proklamasi.

Silaban dikenal luas sebagai penganut Kristen Protestan. Nama samaran itu membuat juri menilai desainnya tanpa melihat siapa perancangnya.

Bagian yang paling terasa saat masuk adalah deretan tiang raksasa berlapis baja nirkarat di ruang salat utama. Menurut saya, di situlah kekuatan Istiqlal: megah tanpa ornamen berlebihan.

Baca Juga:  5 Desain Rumah Tropis Karya Arsitek Indonesia

2. Gedung Bank Indonesia, Thamrin

foto arsip Gedung Bank Indonesia Thamrin beratap perisai lebar dengan fasad roster
Gedung Bank Indonesia Thamrin karya Silaban/Foto: dok. Bank Indonesia

Kantor pusat Bank Indonesia di Jalan M.H. Thamrin tercatat sebagai karya Silaban tahun 1954.

Menurut Bank Indonesia, gedung ini diresmikan Presiden Soekarno pada Hari Bank, 5 Juli 1963. Soekarno sendiri menjuluki Silaban arsitek by the grace of God.

Di foto arsipnya terlihat atap perisai yang lebar dan fasad penuh roster, dua ciri yang cocok untuk iklim tropis. Pada 1954 itu pula ia merancang gerbang Kalibata.

3. Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata

gerbang dan papan nama Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta
Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta/Foto: Fridus Steijlen/KITLV via Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta Selatan juga dirancang Silaban pada 1954. Namanya kini Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.

Banyak peziarah melewati gerbangnya tanpa tahu arsiteknya sama dengan perancang Istiqlal.

4. Kantor BNI 46 dan Gedung Pola

gedung perkantoran putih bertingkat dengan papan nama Gedung Perintis Kemerdekaan di balik pohon palem
Gedung Pola, kini Gedung Perintis Kemerdekaan/Foto: Akhmad Fauzi/Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Silaban merancang kantor pusat BNI 46 di Jakarta pada 1959. Dua tahun kemudian, ia menyelesaikan Gedung Pola, juga di Jakarta.

Gedung Pola kini bernama Gedung Perintis Kemerdekaan, di Jalan Proklamasi 56, Jakarta Pusat. Sejak 1983 gedung ini diserahkan ke Sekretariat Negara.

Dalam sepuluh tahun, dari 1954 sampai 1963, setidaknya lima proyek negara di Jakarta lahir dari mejanya, belum termasuk Istiqlal.

5. Monumen Pembebasan Irian Barat

tugu tinggi dengan patung pria memutus rantai di tengah taman Lapangan Banteng
Monumen Pembebasan Irian Barat, Lapangan Banteng/Foto: Cun Cun/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng tercatat sebagai karya Silaban tahun 1963. Tugu tingginya dengan patung pria yang memutus rantai jadi penanda Lapangan Banteng sampai sekarang.

Kalau ingin melihat dua karya Silaban sekaligus, mulai dari sini. Masjid Istiqlal ada di sisi barat lautnya dan bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Satu catatan: untuk sayembara Monumen Nasional, desain Silaban hanya meraih posisi kedua. Presiden Soekarno kemudian meminta R.M. Soedarsono mengembangkan konsepnya.

6. Rumah Silaban, Bogor

Rumah pribadi Silaban di Bogor dibangun pada 1959–1960, awalnya dipicu rencana kunjungan Presiden Soekarno. Massanya memanjang sejajar jalan, mundur jauh dari garis bangunan sehingga halaman depannya luas dan hijau.

Baca Juga:  6 Gedung Tertinggi di Jakarta 2026 Menurut Data CTBUH

Di depan dan belakangnya ada emper terbuka untuk kegiatan keluarga. Rumah ini sekaligus jadi studio arsitekturnya yang ramai.

Jujur, rumah inilah karya yang paling layak dipelajari arsitek rumah tinggal hari ini. Semua yang kita cari di rumah tropis, dari teras lebar sampai halaman yang lega, sudah ada di sana.

Lain kali lewat Lapangan Banteng, sempatkan menoleh ke tugu itu; ada tangan Silaban di sana.

Rina Maula
Ditulis oleh

Rina Maula

Perempuan sli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, nonton, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *