7 Tahapan Membangun Rumah Sesuai Panduan PUPR

rumah bata yang sedang dibangun dengan besi kolom mencuat di atas dinding
Dinding bata dan besi kolom dalam tahap pembangunan/Foto: Bukulu Steven/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Jakartabuilding.id – Tahapan membangun rumah dimulai dari pengukuran dan bouwplank, lalu fondasi, sloof, kolom dan dinding, ring balok, rangka atap, dan terakhir plester serta finishing. Urutan ini tidak bisa dibalik, karena setiap elemen mengunci elemen sebelumnya.

Sobat JB, ukuran dan campuran di artikel ini diambil dari Buku Saku Petunjuk Konstruksi Bangunan Sederhana 2024 terbitan Kementerian PUPR. Angkanya berlaku untuk rumah sederhana satu lantai, jadi bisa kamu pakai untuk mengecek pekerjaan tukang di lapangan.

Bacaan Lainnya

Sebelum Mulai Membangun

diagram urutan tujuh tahapan membangun rumah dari bouwplank sampai finishing
Urutan 7 tahapan membangun rumah/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Buku saku PUPR menekankan survei lokasi dan penyelidikan tanah sebelum desain dibuat. Jenis tanah menentukan fondasi yang dipakai.

Siapkan juga dua campuran utama. Beton struktur memakai perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil : 0,5 air, dengan kerikil maksimal berdiameter 20 mm. Spesi untuk bata dan plester memakai 1 semen : 4 pasir.

Semen yang dipakai adalah tipe 1 berstandar SNI, dan adukan beton sebaiknya dicek dengan uji slump supaya kekentalannya pas.

7 Tahapan Membangun Rumah

Setiap tahap di bawah dilengkapi ukuran minimum dan kesalahan yang perlu diwaspadai.

1. Pengukuran dan Bouwplank

diagram papan bouwplank di sudut denah dengan benang as dinding
Bouwplank dan garis as bangunan/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Tahap pertama adalah menentukan titik acuan posisi bangunan. Papan bouwplank dipasang di luar garis galian, lalu benang ditarik mengikuti as dinding.

Pastikan papan cukup jauh dari galian supaya tidak bergeser saat tanah digali, dan cek ulang sikunya sebelum mulai menggali.

2. Galian dan Fondasi Batu Kali

penampang fondasi batu kali dengan sloof dan angkur besi
Penampang fondasi batu kali dan sloof/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Untuk tanah keras, fondasi memakai batu kali atau batu gunung yang keras dan bersudut banyak. Batu dipasang dengan spesi 1 semen : 4 pasir.

Di dalam fondasi dipasang angkur besi Ø10 mm setiap 1 meter untuk mengikat fondasi ke sloof di atasnya. Buku saku PUPR menekankan sambungan antarelemen seperti ini sebagai kunci bangunan yang lebih tahan gempa.

Baca Juga:  Biaya Bangun Rumah per Meter 2026 di Jakarta: Patokan Resmi

3. Sloof Sebagai Pengikat Bawah

penampang sloof 15x20, kolom 15x15, dan ring balok 12x15 cm dengan tulangan
Ukuran minimum sloof, kolom, ring balok/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Sloof berukuran minimal 15 × 20 cm, dengan tulangan utama Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm berjarak 15 cm. Selimut betonnya 15 mm.

Sloof mengikat seluruh dinding di bagian bawah. Menurut saya, inilah elemen yang paling tidak boleh dihemat, karena setelah dinding naik, kesalahannya tidak bisa diperbaiki.

4. Kolom dan Dinding Bata

diagram dinding bata di antara dua kolom dengan angkur ke kolom
Bidang dinding maksimal 9 m² di antara kolom/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Kolom berukuran minimal 15 × 15 cm dengan empat tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm tiap 15 cm. Tulangannya masuk ke sloof minimal 40 kali diameter, atau 40 cm.

Satu bidang dinding bata maksimal 9 m², dengan jarak antarkolom paling jauh 3 meter. Setiap enam lapis bata, dinding diikat ke kolom dengan angkur Ø10 mm sepanjang minimal 40 cm.

5. Ring Balok di Atas Dinding

diagram rangka pengikat sloof, kolom, dan ring balok mengelilingi dinding
Rangka pengikat sloof, kolom, ring balok/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Ring balok berukuran minimal 12 × 15 cm, dengan tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm tiap 15 cm. Tulangannya disambung ke kolom minimal 40 cm.

Bekisting ring balok biasa dibuka setelah 3 hari, sedangkan bagian kantilever baru setelah 14 hari. Jangan buru-buru membongkar hanya karena beton terlihat kering.

6. Rangka Atap

diagram kuda-kuda kayu rangka atap rumah
Rangka atap kuda-kuda dan ampig/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Kuda-kuda kayu dipakai untuk bentang maksimal sekitar 12 meter. Sambungannya memakai pelat baja 4 × 40 mm atau papan kayu 20 × 100 mm yang dibaut.

Ampig atau gunung-gunung diberi rangka beton bertulang 15 × 12 cm, dengan tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm. Rangka atap juga perlu ikatan angin supaya stabil.

7. Plester dan Finishing

diagram lapisan dinding bata, plester 2 cm, dan acian
Lapisan bata, plester, dan acian/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Plester memakai adukan 1 semen : 4 pasir dengan tebal sekitar 2 cm. Setelah plester kering, dinding baru diaci dan dicat.

Lantai dan finishing lain menyesuaikan fungsi ruang. Tapi bukankah finishing bisa dikerjakan bersamaan dengan atap supaya cepat? Sebaiknya jangan, karena pekerjaan atap berisiko merusak lantai dan dinding yang baru selesai.

Baca Juga:  6 Cara Urus PBG Rumah di Jakarta Lewat SIMBG

Checklist Cek Tukang

checklist enam poin untuk mengecek pekerjaan tukang bangunan
Checklist cek pekerjaan tukang/Ilustrasi: Jakartabuilding.id

Gunakan daftar ini saat mengunjungi lokasi:

– Bouwplank siku dan tidak bergeser.

– Angkur fondasi terpasang tiap 1 meter.

– Sloof minimal 15 × 20 cm dan kolom minimal 15 × 15 cm.

– Tidak ada bidang dinding lebih dari 9 m² tanpa kolom.

– Angkur dinding ke kolom setiap enam lapis bata.

– Bekisting ring balok tidak dibongkar sebelum 3 hari.

Rumah yang kuat lahir dari tahapan yang sabar, satu elemen demi satu elemen.

 

Rina Maula
Ditulis oleh

Rina Maula

Perempuan sli Gamping, Sleman. Suka menulis, membaca, nonton, dan menggambar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *