Jakartabuilding.id – Tahapan membangun rumah dimulai dari pengukuran dan bouwplank, lalu fondasi, sloof, kolom dan dinding, ring balok, rangka atap, dan terakhir plester serta finishing. Urutan ini tidak bisa dibalik, karena setiap elemen mengunci elemen sebelumnya.
Sobat JB, ukuran dan campuran di artikel ini diambil dari Buku Saku Petunjuk Konstruksi Bangunan Sederhana 2024 terbitan Kementerian PUPR. Angkanya berlaku untuk rumah sederhana satu lantai, jadi bisa kamu pakai untuk mengecek pekerjaan tukang di lapangan.
Sebelum Mulai Membangun

Buku saku PUPR menekankan survei lokasi dan penyelidikan tanah sebelum desain dibuat. Jenis tanah menentukan fondasi yang dipakai.
Siapkan juga dua campuran utama. Beton struktur memakai perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil : 0,5 air, dengan kerikil maksimal berdiameter 20 mm. Spesi untuk bata dan plester memakai 1 semen : 4 pasir.
Semen yang dipakai adalah tipe 1 berstandar SNI, dan adukan beton sebaiknya dicek dengan uji slump supaya kekentalannya pas.
7 Tahapan Membangun Rumah
Setiap tahap di bawah dilengkapi ukuran minimum dan kesalahan yang perlu diwaspadai.
1. Pengukuran dan Bouwplank

Tahap pertama adalah menentukan titik acuan posisi bangunan. Papan bouwplank dipasang di luar garis galian, lalu benang ditarik mengikuti as dinding.
Pastikan papan cukup jauh dari galian supaya tidak bergeser saat tanah digali, dan cek ulang sikunya sebelum mulai menggali.
2. Galian dan Fondasi Batu Kali

Untuk tanah keras, fondasi memakai batu kali atau batu gunung yang keras dan bersudut banyak. Batu dipasang dengan spesi 1 semen : 4 pasir.
Di dalam fondasi dipasang angkur besi Ø10 mm setiap 1 meter untuk mengikat fondasi ke sloof di atasnya. Buku saku PUPR menekankan sambungan antarelemen seperti ini sebagai kunci bangunan yang lebih tahan gempa.
3. Sloof Sebagai Pengikat Bawah

Sloof berukuran minimal 15 × 20 cm, dengan tulangan utama Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm berjarak 15 cm. Selimut betonnya 15 mm.
Sloof mengikat seluruh dinding di bagian bawah. Menurut saya, inilah elemen yang paling tidak boleh dihemat, karena setelah dinding naik, kesalahannya tidak bisa diperbaiki.
4. Kolom dan Dinding Bata

Kolom berukuran minimal 15 × 15 cm dengan empat tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm tiap 15 cm. Tulangannya masuk ke sloof minimal 40 kali diameter, atau 40 cm.
Satu bidang dinding bata maksimal 9 m², dengan jarak antarkolom paling jauh 3 meter. Setiap enam lapis bata, dinding diikat ke kolom dengan angkur Ø10 mm sepanjang minimal 40 cm.
5. Ring Balok di Atas Dinding

Ring balok berukuran minimal 12 × 15 cm, dengan tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm tiap 15 cm. Tulangannya disambung ke kolom minimal 40 cm.
Bekisting ring balok biasa dibuka setelah 3 hari, sedangkan bagian kantilever baru setelah 14 hari. Jangan buru-buru membongkar hanya karena beton terlihat kering.
6. Rangka Atap

Kuda-kuda kayu dipakai untuk bentang maksimal sekitar 12 meter. Sambungannya memakai pelat baja 4 × 40 mm atau papan kayu 20 × 100 mm yang dibaut.
Ampig atau gunung-gunung diberi rangka beton bertulang 15 × 12 cm, dengan tulangan Ø10 mm dan sengkang Ø8 mm. Rangka atap juga perlu ikatan angin supaya stabil.
7. Plester dan Finishing

Plester memakai adukan 1 semen : 4 pasir dengan tebal sekitar 2 cm. Setelah plester kering, dinding baru diaci dan dicat.
Lantai dan finishing lain menyesuaikan fungsi ruang. Tapi bukankah finishing bisa dikerjakan bersamaan dengan atap supaya cepat? Sebaiknya jangan, karena pekerjaan atap berisiko merusak lantai dan dinding yang baru selesai.
Checklist Cek Tukang

Gunakan daftar ini saat mengunjungi lokasi:
– Bouwplank siku dan tidak bergeser.
– Angkur fondasi terpasang tiap 1 meter.
– Sloof minimal 15 × 20 cm dan kolom minimal 15 × 15 cm.
– Tidak ada bidang dinding lebih dari 9 m² tanpa kolom.
– Angkur dinding ke kolom setiap enam lapis bata.
– Bekisting ring balok tidak dibongkar sebelum 3 hari.
Rumah yang kuat lahir dari tahapan yang sabar, satu elemen demi satu elemen.


